I Love You! – Short Story

Standard

“Luka ini, semestinya tidak perlu ada…”

Kataku, kepada dia yang terpantul di depan; sosok yang melintangkan tangan kanan di atas kening untuk menutupi matanya. Ada segaris luka tertampak jelas di permukaan. Merah lebam dan mengering, kumpulan serabutan irisan tipis memanjang pada pegelangan. Tak jauh dari sana, sebilah pisau memantulkan kilapan cahaya; sang pelaku utama yang berkilau bangga. Setiap goresnya adalah medali pengingat bahwa ada hati yang menyerah pada sakit yang teramat.

“Kamu tidak perlu semua ini. Kamu tahu itu.”

Kepadanya, aku berusaha menyadarkan. Dia hanya menatap pedih tanpa suara, kata telah kehilangan fungsinya untuk mendefisikan rupa. Kebingungan untuk merasa, karena syaraf demi syaraf perlahan mati di dalam dada. Sakit macam apa lagi yang hendak dicerna, bukankah semua sudah pernah dirasa? Sebuah luka nyata pada raga, setidaknya membantu otak untuk mengklasifikasikan sakit itu sebagai perih dan mendistraksinya dari nyeri yang tidak terdefinisi. Kumpulan irisan di pegelangan terasa lebih manusiawi dan mampu ditanggungi.

“Bertahanlah, kamu akan baik-baik saja.”

Berbisik, aku di telinganya. Matanya menatap tidak percaya, mukanya menyiratkan ragu ketara. Pandangan kami bertalian erat, aku menatap tajam ke dalam kedua bola dalam rongga itu. Aku tahu, dia sebenarnya tahu, namun binar cemerlangnya yang selalu kukenal, meredup remang hampir padam. Ia lelah, aku pun teramat tahu; hidup sedang mengajak bercanda dengan lelucon sangat tidak lucu. Drama yang tidak putus dengan senyum yang ternyata tidak tulus; palsu, wajar dia babak belur meragu.

“….”

Aku pun lalu kehilangan suara, tidak lagi tahu bagaimana menyampaikan semua ini dalam jangkauan bahasa. Dunianya yang tersusun dari balok-balok kenangan berharga yang dilandasi percaya, porak poranda seketika. Cinta buyar berlarian meninggalkan, hujatan dan penyangkalan menyisakan hanya rasa tidak berharga. Tidak lagi kini dia mau percaya, bahkan padaku yang ada di hadapannya. Kuamati dia yang tertunduk pasi; putus asa, ia terhuyung menyenderkan diri. Keningnya menyentuh keningku, tangannya menempel lemah pada telapakku. Bersandar gontai. Sentuhan tidak lagi berarti banyak; dingin, tidak tersampaikan. Aku ingin memeluknya, menghangati hatinya, namun akupun seolah turut kehilangan daya. Di dalam sana, dia mulai membangun menara; mengurung diri dari dunia, metamorfosa menjadi robot tanpa jiwa.

“Banyak cinta mengalir untukmu. Jangan menyerah dulu.”

Masih, aku berusaha mencoba membangkitkannya. Jiwanya terlalu berharga untuk dibiarkan mati begitu saja; jangan sampai seperti itu. Dia mendengus mendengarnya. Menggeleng perlahan, dia telengkan kepala, bersamaan dengan satu sudut bibirnya memaksakan senyuman. Jika rasa percaya saja sudah habis berantakan, lantas apa yang tersisa untuk sebentuk abstrak bernama cinta? Tidak, lebih-lebih tidak. Dia tidak sudi lagi, tidak sepadan dengan rasa yang digadaikan. Memang pada siapa percaya itu layak kembali dipertaruhkan?

“Padaku.”

Jawabku yakin. Dia terkesiap.

“I love you.”

Dia perlu tahu, aku perlu memberi tahu. Akan kuulangi berkali-kali kalau perlu, sejauh aku mampu.

“You’ve been doing great. I love you so much!”

Seolah tidak siap mendengarnya, kepalanya bergerak gelisah menoleh tak beraturan, namun kukunci tatapanku di sana. Biar matanya memandang kedalamanku, merasakan kesungguhannya. Dia dicinta, dia sangat layak dicinta; dia berharga luar biasa. Entah kapan terakhir kukatakan ini padanya, atau, pernahkah? Ah, wajar kalau dia lupa, wajar saja merasa tak berharga. Maafkan aku, seharusnya kukatakan ini sejak dulu; dia berhak untuk tahu, dan akulah seorang yang paling tahu.

Ada hening yang timbul dalam waktu, sebelum kulihat bahunya —juga bahuku— tersengguk menyedan. Tangan kami yang bersentuhan gemetar. Satu titik mengalir dari sudut mata, menyusuri pipi lalu menetes turun, disusul titik-titik lainnya belomba tiada henti. Suara terisak menggema di sana, tangis kami pecah beriringan. Bukan lagi karena pedih, bukan lagi karena perih. Kali ini adalah kesadaran, kami telah terlalu lama saling meninggalkan dan melupakan. Sibuk mencari dan menyanjung cinta di luaran, lupa pada jiwa yang seiring sejalan.

Dalam isak, kami bertatapan dan bersentuhan, memuaskan yang selama ini terabaikan. Aku mengamatinya lekat; setiap inci wajah, setiap raut ekspresi, setiap getar emosi. Semuanya adalah hasil tempaan perjalanan dan pergulatan panjang. Teringatkan kembali akan setiap jauh liku yang telah kami tempuh bersama; betapa sulitnya, hanya kami yang mengerti. Hanya kami yang memahami.

Derai pun mereda, sosok di balik cermin itu, yang juga adalah aku, membalas tatapku dengan pijar yang sayu. Ada harapan perlahan menyala di sana. Luka masih ada, tapi itu akan kami sembuhkan seiring waktu yang berjalan. Tidak perlu lagi dibuka-buka, biarkan mengering sempurna. Kami, —aku dan diriku—, akan baik-baik saja bersama. Beban berat sudah terangkat dari hatinya, bibirnya melengkungkan gurat tipis penuh kelegaan.

“Terima kasih sudah mengingatkan. I love you too.”

Katanya. Dan aku mengamini dalam senyuman.
Dicintai oleh diri sendiri adalah sungguh teristimewa.

————————————————————————————————————–

*again, inspired from @__azza’s twit lately. Thank you for always reminding me unintentionally.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s